Senin, 23 Desember 2013

Mengatasi mata bengkak atau Bintitan (Hordeolum ) Secara Alami

Bintitan atau timbilen atau dalam istilah kedokterannya disebut hordeolum bukanlah disebabkan karena kebiasaan mengintip seperti yang sering disebut-sebut dalam mitos.  Hordeolum adalah infeksi atau peradangan pada kelenjar di tepi kelopak mata bagian atas maupun bagian bawah yang disebabkan oleh bakteri, biasanya oleh kuman Stafilokokus (Staphylococcus aureus). Hordeolum dapat timbul pada 1 kelenjar kelopak mata atau lebih. Kelenjar kelopak mata tersebut meliputi kelenjar Meibom, kelenjar Zeis dan Moll.
Bintitan ini dalam Bahasa Sunda dikenal sebagai Turuwisen, yaitu berupa benjolan kecil pada pinggir kelopak mata ini kerap disertai rasa gatal dan nyeri, yang kemudian dapat bertambah besar layaknya bisul. Penyebabnya adalah peradangan muara kelenjar pada lapisan kelopak mata atas maupun bawah dimana terdapat produksi cairan yang berguna untuk fungsi air mata dan keringat. Apabila muara kelenjar itu tersumbat oleh kotoran seperti debu, make-up, dan lainnya; maka timbulah bintitan. Peradangan ini bisa terjadi tanpa atau dengan adanya infeksi bakteri.
Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, mulai anak-anak hingga orang tua. Disebutkan bahwa angka
kejadian pada usia dewasa lebih banyak dibanding anak-anak.
Tidak ada perbedaan angka kejadian (insidens rate) antara wanita dengan pria. Adakalanya seseorang mudah banget mengalami timbilen (berulang). Ibaratnya, baru sembuh yang satu, kemudian muncul lagi timbil di tempat yang lain.
Jenis Bintitan
Sesuai dengan kondisinya, hordeolum dibedakan menjadi dua; hordeolum eksternum (ada di luar) dan hordeolum internum, (terjadi di dalam kelopak mata). Pada hordeolum eksternum, kuman menempel di bulu mata, masuk melalui pori-pori dan bagian yang terkena adalah kelenjar zeiss dan kelenjar moll yang letaknya memang berdekatan dengan pangkal bulu mata. Sedangkan pada hordeolum internum terjadi pada kelenjar lemak sehingga bagian dalam kelopak mata akan membengkak dan terinfeksi.
Biasanya hordeolum eksternum agak lebih kecil dan letaknya di sebelah luar, tepatnya di sekitar bulu mata. Sedangkan hordeolum internum agak ke dalam dan lebih tebal serta besar sehingga terasa mengganjal pada mata.
Selain dua jenis tersebut, ada juga bintitan kalazion; yang mengeras dan sudah tak aktif lagi. Penyebabnya belum diketahui secara persis, tapi diduga karena gangguan sekresi kelenjar meibom. Hal ini menyebabkan penyumbatan dan menimbulkan reaksi jaringan sekitarnya terhadap bahan-bahan yang tertahan sehingga akan menimbulkan benjolan yang mengeras.
Ketiga jenis tersebut bisa dibedakan dari gejala yang muncul. Biasanya anak terkena hordeolum, awalnya akan tampak suatu benjolan berwarna merah dan terasa sakit bila ditekan di dekat pangkal bulu matanya. Sedangkan pada kalazion, muncul peradangan sangat ringan. “Apabila kista atau kantong ini cukup besar dapat menyebabkan kelopak mata menebal dan teraba suatu benjolan keras di dalamnya sehingga akan menekan bola mata dan dapat menimbulkan gangguan atau penurunan penglihatan.”
Gejala Bintitan
Tanda-tanda hordeolum sangat mudah dikenali, yakni nampak adanya benjolan pada kelopak mata bagian atas atau bawah, berwarna kemerahan. Adakalanya nampak bintik berwarna keputihan atau kekuningan disertai dengan pembengkakan kelopak mata. Pada hordeolum interna, benjolan akan nampak lebih jelas dengan membuka kelopak mata. Keluhan yang kerap dirasakan oleh penderita hordeolum diantaranya rasa mengganjal pada kelopak mata, nyeri takan dan makin nyeri saat menunduk. Kadang mata berair dan peka terhadap sinar. Hordeolum dapat membentuk abses di kelopak mata dan pecah dengan mengeluarkan nanah.
Pengobatan Bintitan
Pada umumnya hordeolum dapat sembuh sendiri (self-limited) dalam 1-2 minggu. Namun tak jarang memerlukan pengobatan secara khusus, obat topikal (salep atau tetes mata antibiotik) maupun kombinasi dengan obat antibiotika oral (diminum).
Urutan penatalaksanaan hordeolum adalah sebagai berikut:
  1. Kompres hangat selama sekitar 10-15 menit, 4 kali sehari.
  2. Antibiotik topikal (salep, tetes mata), misalnya: Gentamycin, Neomycin, Polimyxin B, Chloramphenicol, Dibekacin, Fucidic acid, dan lain-lain.
  3. Obat topikal digunakan selama 7-10 hari, sesuai anjuran dokter, terutama pada fase peradangan. Antibiotika oral (diminum), misalnya: Ampisilin, Amoksisilin, Eritromisin, Doxycyclin.
  4. Antibiotik oral digunakan jika hordeolum tidak menunjukkan perbaikan dengan antibiotika topikal. Obat ini diberikan selama 7-10 hari.
Penggunaan dan pemilihan jenis antibiotika oral hanya atas rekomendasi dokter berdasarkan hasil pemeriksaan. Adapun dosis antibiotika pada anak ditentukan berdasarkan berat badan sesuai dengan masing-masing jenis antibiotika dan berat ringannya hordeolum. Obat-obat simptomatis (mengurangi keluhan) dapat diberikan untuk meredakan keluhan nyeri, misalnya: asetaminofen, asam mefenamat, ibuprofen, dan sejenisnya.
Anjuran Untuk Penderita Bintitan
Hindari mengucek-ucek atau menekan hordeolum. Jangan memencet hordeolum. Biarkan hordeolum pecah dengan sendirinya, kemudian bersihkan dengan kasa steril ketika keluar nanah atau cairan dari hordeolum. Tutup mata pada saat membersihkan hordeolum. Untuk sementara hentikan pemakaian make-up pada mata. Lepaskan lensa kontak (contact lenses) selama masa pengobatan.
Memang pada awalnya infeksi hanya memerah. Saat itulah sel-sel darah putih yang berfungsi menghancurkan kuman sedang aktif bekerja. Kalau kondisi tubuh kita sedang dalam keadaan bagus, sel-sel darah akan dapat bekerja dengan baik sehingga kuman akan kalah dan dengan sendirinya bintitan akan hilang. Tapi jika sel darah yang kalah, lama kelamaan akan melembek dan menimbulkan nanah.
Kapan dilakukan insisi ? 
Dianjurkan insisi (penyayatan) dan drainase pada hordeolum, apabila: Hordeolum tidak menunjukkan perbaikan dengan obat-obat antibiotika topikal dan antibiotika oral dalam 2-4 minggu. Hordeolum yang sudah besar atau sudah menunjukkan fase abses. Setelah insisi dianjurkan kontrol dalam seminggu atau lebih untuk penyembuhan luka insisi agar benar-benar sembuh sempurna.
Memang jika didiamkan saja pun lama kelamaan bintitan akan membesar dan pecah sendiri.
“Tapi, pecahnya bukan berarti telah sembuh, melainkan hanya bagian luarnya saja yang pecah, isinya tidak ikut keluar sehingga akan meninggalkan bekas yang menonjol pada bagian yang pecah tersebut.”
Berbeda jika dilakukan insisi, karena prosesnya dilakukan melalui bagian dalam kelopak mata yang panjangnya hanya berkisar 1 hingga 2 mm, kemudian baru dilakukan kuretase; pengeluaran isinya. Tindakan ini tak akan menimbulkan bekas
Pencegahan Agar Tidak Bintitan
Jaga kebersihan wajah dan membiasakan mencuci tangan sebelum menyentuh wajah agar hordeolum tidak mudah berulang. Usap kelopak mata dengan lembut menggunakan washlap hangat untuk membersihkan ekskresi kelenjar lemak. Jaga kebersihan peralatan make-up mata agar tidak terkontaminasi oleh kuman. Gunakan kacamata pelindung jika bepergian di daerah berdebu.
Bintitan Bisa Menyebabkan Kematian !
Bukan hanya orang dewasa yang mengalaminya, bayi pun ternyata juga bisa mengalaminya. Gejalanya hampir sama dengan orang dewasa, bahkan bila tak segera ditangani, itu bisa menyebabkan kematian.
Gejalanya, kadang-kadang anak merasa terganggu, kemudian rewel dan demam. Keduanya berbahaya, harus mendapat penanganan sedini mungkin agar sembuh total. Kuman yang mengiritasi adalah penyebabnya. Yang terbanyak adalah kuman streptococcus dan staphylococcus.
Penyebaran kuman tersebut antara lain melalui udara. Dikatakan Spesialis penyakit mata RSU dr Soetomo Surabaya, Dokter Hendrian D. Soebagjo SpMK,
“Disarangkan tak sering mengucek-ngucek mata. Terlalu sering dan keras mengucek mata bisa memunculkan luka berukuran sangat kecil (micro lesion). Nah melalui luka itulah bakteri bisa masuk ke dalam tubuh”.
Jika timbilen tak segera diobati, kuman berisiko masuk ke rongga mata. Selanjutnya, menuju ke selaput otak.
“Dalam kondisi begitu, pasien akan mengalami meningitis. Namun bisa juga terjadi abses otak. Kalau sudah begitu, pasien bisa meninggal dunia”.
Pencegahan tentu lebih baik daripada pengobatan. Agar tak timbilen sebaiknya kesehatan dijaga sebisa mungkin. Terutama bayi atau balita dengan alergi. Namun meski ada alergi, kalau tak terkontaminasi bakteri, bayi dan balita tak akan timbilen.
Cara Alami Mengatasi Bintitan

 1.      Bawang Putih
Bawang putih dapat menjadi solusi tepat untuk mengatasinya. Umbi lapis ini mengandung beberapa kandungan alami yang terkandung dalam tiap-tiap getahnya. Kandungan tersebut berupa minyak atsiri, alildisulfida, dialildisulfida, alisin, aliin, enzim alinasa, triglikosida, vitamin A, vitamin B, dan hormon kelamin. Perlu diketahui, bawang putih memiliki sifat khas yang menghangatkan, tajam tetapi halus. Bagian yang digunakan untuk mengobati mata timbilan adalah umbi lapisnya. Bahan yang digunakan sangat simple, yaitu cukup menyediakan sebutir bawang putih yang sudah dicuci bersih dan dikupas. Kemudian, potong bagian ujungnya agar dapat memoles bagian mata yang timbilan dengan mudah. Poles timbil dengan irisan bawang secara perlahan-lahan dan searah. Pada bagian ini perlu kehati-hatian, karena salah-salah bisa mengenai mata. Lakukan berulang-ulang pada pagi dan sore hari, sampai timbil mengempis. Mulailah menjaga kesehatan, karena sehat mahal harganya.
 2.      Air Hangat
Basuhlah kelopak mata dengan air hangat (jangan terlalu panas), kompres basah pada daerah yang terinfeksi tiga sampai empat kali setiap hari setidak-tidaknya 5 sampai 10 menit setiap kali. Hindari situasi-situasi yang memungkinkan mata Anda terkena debu atau kotoran secara berlebihan. Jangan mempermainkan atau menggosok-gosok daerah yang terinfeksi, tak peduli betapa besar keinginan Anda untuk memijat timbil itu.

illank bundrank

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Poskan Komentar